Never End

Minggu, 27 November 2011

Pemilik Bakso Lapangan Tembak Senayan

Anda mungkin sudah tidak asing dengan nama franchise Bakso Lapangan Tembak Senayan bukan? kali ini saya ingin membahas tentang si pemilik. Bagaimana si pemilik mengelolanya, dan sudah berapa banyak cabang yang ia punya. Kali saja kita dapat meniru beliau dalam berkarir. Dan saya akan menjelaskan secara singkat jalan hidup beliau meraih kesuksesan.

Nama           : KI AGENG  WIDYANTO SURYO BUWONO
Lahir            : Wonogiri, 15 Juni 1949
Wafat           : Solo,  9 Juli 2011
Agama         : Islam
Pendidikan : SMP Solo 1965-1967
                      STM 1 Solo 1968-1970
Pekerjaan   : Pemilik Bakso Lapangan Tembak Senayan

Lambang Bakso Lapangan Tembak Senayan

            KI AGENG WIDYANTO SURYO BUWONO, nama yang dianugerahkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX pada tahun 1980-an. Lahir di Wonogiri, Jawa tengah pada tanggal 15 Juni 1949. Lulusan STM 1 Solo ini pemilik usaha waralaba (franchise) Bakso Lapangan Tembak Senayan.  Dia merintis usahanya dari pedagang bakso pikulan hingga menjadi pengusaha franchise dengan 150 restoran tersebar di seluruh Indonesia. Dengan lebih dari 2000 karyawan.  Dia meninggal dunia di Solo, Jawa Tengah, 9 Juli 2011 dalam usia 62 tahun.
            Widyanto nama akrabnya, sudah memulai usahanya sejak kelas 2 SMP di Solo pada tahun 1966. Ia menjajakan bakso dengan pikulan. Setelah tamat STM 1 di Solo, dia hijrah ke Jakarta dengan bermodalkan uang sebesar Rp.1200. Di Jakarta ia langsung menjual baksonya berkeliling dengan cara memikulnya. Beberapa tahun kemudian, ia merubah pikulannya dengan gerobak dorong. Disiang hari, dia berkeliling dari gang ke gang di kawasan Pertamburan, Slipi, Pejompongan dan Gelora Senayan. Lalu pada malam hari, ia mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan (kini telah berubah menjadi Hotel Mulia).
            Rupanya dari Lapangan Tembak itulah, Widyanto menemukan pelanggan-pelanggan yang ketagihan dengan baksonya. Saat itu, pelanggan menyebutnya sebagai bakso ala Jowo. Sehingga akhirnya, di tahun 1982 ia memutuskan mangkal tiap hari di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan.
            Keberuntungan sedang berpihak padanya, karena tahun 1983 ia diizinkan memboyong gerobak baksonya ke dalam kompleks, dan sejak itu baksonya dikenal masyarakat dengan sebutan Bakso Lapangan Tembak Senayan. Jika ingat pada waktu itu, warung bakso yang berada di lokasi parkir itu dipenuhi oleh mobil yang ingin jajan di sana. Para tamu rela makan sambil berdiri atau bahkan makan bakso di mobil masing-masing karena tidak mendapatkan tempat duduk. Dan sudah menjadi pemandangan lazim, setiap sore para atlet pelatnas (atletik, bulutangkis, renang, menembak dan sebagainya) terlihat makan dan kongko-kongko di sana. Pendeknya, warung bakso Lapangan Tembak ini ngetop di kalangan atlet nasional dan masyarakat sekitarnya.
            Di tengah masa keemasannya, banyak pejabat ataupun tokoh masyarakat yang mencicipi baksonya. Bahkan karena popularitasnya, Widyanto memperoleh kemudahan membuka beberapa gerai di lingkungan Senayan. Selain di halaman Gedung Bulutangkis, Widyanto juga memperoleh izin menyewa lahan untuk buka warung bakso di Kelurahan Lapangan Tembak Senayan yang ditempatinya hingga sekarang. Setidaknya ada 7 cabang warung yang berhasil dikembangkan Widyanto hingga 1998.
            Widyanto mulai tertantang untuk membuka gerai nya di beberapa pusat pembelanjaan di Jakarta. Meski berani masuk mal, bukan berarti Bakso Lapangan Tembak tanpa perhitungan. Bagi Widyanto, masuk ke mal juga butuh analisis yang matang, bukan sekadar mengatrol gengsi. Itulah sebabnya ia pun memperhitungkan faktor biaya sewa gerai, ekspektasi animo pengunjung, omset dan pengeluaran operasional. Dengan strategi promosi dari mulut ke mulut, tidak hanya pelanggan lama yang loyal, tapi juga mampu menggaet pelanggan baru.
            Ada beberapa jurus yang membuat jumlah pelanggan Bakso Lapangan Tembak Senayan terus bertambah. Pertama, untuk variasi produk, ditawarkan menu-menu baru di luar bakso, semisal sapi lada hitam, Chinese food dan lainnya. Sekarang total menunya sekitar 50 sajian. Kedua, harga dibanderol tidak seragam, disesuaikan dengan tingkat perekonomian masing-masing daerah. Yang pasti tarif menunya dari yang terendah Rp 11 ribu dan tertinggi Rp 15 ribu per porsi. Ketiga, kiat menjaga kualitas. Caranya sedari awal punya komitmen tidak menggunakan bahan kimia sebagai pengawet. Untuk itu tiap hari baksonya diproduksi dari daging dan adonan segar, bahkan dalam 1kg daging sapi hanya menghasilkan 60 gelinding saja. Selain itu untuk menstandarkan mutu baksonya, di semua cabang bakso yang ada di daerah menggunakan koki yang langsung didatangkan dari Jakarta. Bahkan sebelum menjadi koki di gerainya, calon-calon koki tersebuut dilatih dahulu paling sedikit satu bulan.
            Tingginya minat investor untuk bergabung dengan Bakso Lapangan Tembak Senayan disambut hangat oleh Widyanto. Makanya ia bersedia mengembangkan waralaba dengan catatan sistemnya semifranchise. Menurutnya dengan semifranchise, beliau masih bisa ikut mengelola dan mengontrol citarasa serta manajemen franchise-nya.  Secara periodik, Widyanto berkomunikasi dan mengadakan rapat dengan para franchisee-nya. Sayang, ia enggan memaparkan angka pasti pembagian keuntungan dengan mitra franchisee-nya. Yang jelas, untuk membuka sebuah gerai baru dibutuhkan dana minimum Rp 360 juta per tahun, sebagian untuk sewa gerai di mal seluas 150 m2. Beliau juga berkata setidaknya harus menyediakan modal sekitar Rp 1,8 miliar untuk kerja sama  selama lima tahun. Itu pun belum termasuk biaya pengadaan aksesori toko dan pengecatan. Meski biayanya lumayan tinggi, hal ini tidak menyurutkan minat investor. Buktinya dari 150 gerai baksonya, lebih dari separuhnya merupakan hasil pola waralaba.
             Terhitung Februari 2007 ia meresmikan berdirinya PT Balats yang berkantor di Apartemen Bellezza, Permata Hijau. Sudah banyak penghargaan yang beliau capai, kita dapat melihatnya saat berkunjung di gerainya yang berada di Senayan, atau lebih tepatnya di depan Hotel Mulia. Salah satunya piagam dari MURI sebagai RUMAH MAKAN BAKSO DENGAN CABANG TERBANYAK.

 
beberapa piagam yang dipajang

            Selain Bakso Lapangan Tembak Senayan, beliau juga mempunyai usaha rumah makan lain di Solo dan sebuah pabrik kayu (maaf saya lupa alamat pabrik tersebut). Rumah makan tersebut terkenal dengan Rumah Makan Waroeng Goenoeng. Beliau juga mengembangkan seni budaya Indonesia terutama kebudayan Jawa. Bahkan, didepan gera-nya yang terletak di Senayan atau lebih tepatnya disamping kelurahan Gelora kita akan di sajikan gamelan.

            Beliau juga bergabung dalam sanggar Swargaloka. Sanggar ini sudah tak asing kita dengar dan sering tampil di Gedung Kesenian Jakarta atau salah satu gedung yang berada di TMII. Beliau pun ikut serta dalam pertunjukan tersebut. Bahkan tak jarang, sanggar ini bersama beliau melakukan pentas diluar negeri.





Salah satu foto saya bersama beliau di salah satu kediamannya yang terletak di Puri Indah Cikeas, sebelum beliau wafat.

dengan perubahan penulisan, serta berbagai foto dari search google dan milik pribadi saya.

5 komentar:

  1. sayang franchise Bakso Lapangan Tembak Senayan cabang Duta Mall Banjarmasin pelayannya sangat mengecewakan. hati hati kena tipu makan dsana... kasihan arwah KI AGENG WIDYANTO SURYO BUWONO

    BalasHapus
  2. masih banyak kisah yang tidak di sampaikan,, mau tahu silakan hubungi yang berkompeten.terima kasih.

    BalasHapus
  3. kamu tau cerita tentang pakde dari mana...
    kan yg tau cuma aku sampai detailnya..

    BalasHapus
  4. thanks ya sister sudah mengabadikan bapakku..

    BalasHapus
  5. Luar Biasa,....." Tiada Kesuksesan Yang Tidak Dilalui dengan Ketekunan dan Kerja Keras " Sukses terus.. dan Semoga kami bisa mengikuti Jejak suksesnya,...Amin

    BalasHapus